Open Access
Issue
E3S Web Conf.
Volume 317, 2021
The 6th International Conference on Energy, Environment, Epidemiology, and Information System (ICENIS 2021)
Article Number 01096
Number of page(s) 7
Section Culture and Environment
DOI https://doi.org/10.1051/e3sconf/202131701096
Published online 05 November 2021
  1. M. A. Abdullah, Selama kearifan adalah kekayaan: Eksitensi Panglima Laot di Aceh, Banda Aceh: Lembaga Hukom Adat Laot Aceh dan Yayasan KEHATI, 2006. [Google Scholar]
  2. A. S. Djuliati, Sejarah Maritim Indonesia 1, Semarang: Jeda, 2007. [Google Scholar]
  3. K. Bustamam Ahmad, Kearifan Lokal di Laut Aceh, Banda Aceh: Center Study of Sea Customery law and Fisheries Policy Syiah Kuala University and Syiah Kuala University Press., 2010. [Google Scholar]
  4. Anonim, Monografi perikanan Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh:: Dinas Perikanan Aceh., 1973. [Google Scholar]
  5. M. S. Suhaidy, Buku Pegangan Teungku Imeum Meunasah, Banda Aceh: Dinas Syari’at Islam Provinsi NAD., 2007 . [Google Scholar]
  6. L. J. Moelong, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosda Karya., 1991. [Google Scholar]
  7. Mujiburrahman, ““Perkembangan Panglima Laôt Dan Peranannya Dalam Kehidupan Masyarakat Nelayan Di Kecamatan Kembang Tanjong Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh (1990–2007)”,” Tesis Pada Jurusan Ilmu Sejarah Pasca Sarjana Universitas Diponegoro, Semarang, Semarang, 2015. [Google Scholar]
  8. S. Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Pers, 1987. [Google Scholar]
  9. H. Zainuddin, Tarich Atjeh dan Nusantara, Medan: Pustaka Iskandar Muda., 1961. [Google Scholar]
  10. I. Alfian, Perang Di Jalan Allah, Perang Aceh 1873-1912, Yogyakarta, 2016. [Google Scholar]
  11. Agus Budi Wibowo, Sistem Pengetahuan Kenelayanan Pada Masyarakat Nelayan Aceh Besar, Banda Aceh: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisonal, 2000. [Google Scholar]
  12. A. Suryo, Seri Informasi Budaya, Kenduri Laot Pada Masyakat Aceh, Banda Aceh: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisonal., 2008. [Google Scholar]
  13. M. Rachmad Munazir, “Strategi Lembaga Adat Panglima Laot dalam Menyelesaikan Konflik (Sengketa) Masyarakat Nelayan di Kabupaten Pidie Provinsi Aceh,” Jurnal Humaniora, vol. 2, no. 2, pp. 110–117, 2018. [Google Scholar]
  14. Y. R. Singgih Tri Sulistiyono and Mujiburrahman Mahendra Pudji Utama*, “Transformation of Panglima Laot in Aceh: From Punggawa to Customary Institution,” in The 5th International Conference on Energy, Environmental and Information System (ICENIS 2020) Article Number 07031, Semarang, 2020. [Google Scholar]
  15. Z. Y. M. M. N. Rahcmad Munazir, “MENJAGA KELESTARIAN LINGKUNGAN MARITIM PESISIR YANG BERKELANJUTAN DI KABUPATEN PIDIE DENGAN PENDEKATAN ADAT LAOT,” Jurnal Humaniora,, vol. 1, no. 2, pp. 71–78, 2017. [Google Scholar]
  16. E. S. Sutejo K Widodo, “The Development and Roles of Panglima Laot in the Fishermen Community at Pidie, 1990–2007,” Advanced Science Letters, vol. 23, no. 10, pp. 10005-10007, 2017. [Google Scholar]
  17. M. Puspita, “KEARIFAN LOKAL DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA PESISIR DAN LAUT Hukum Adat Laot dan Lembaga Panglima Laot di Nanggroe Aceh Darussalam,” Sabda, Jurnal kajian budaya, vol. 3, no. 2, p. 15, 2017. [Google Scholar]
  18. S. W. Rahayu, “Lembaga Penyelesaian Sengketa Adat Laut “Panglima Laôt” di Aceh sebagai Bentuk Pengembangan Alternatif Penyelesaian Sengketa dalam Sistem Hukum di Indonesia,” Padjadjaran Jurnal Ilmu Hukum, vol. 1, no. 3, p. 456, 2014. [Google Scholar]

Current usage metrics show cumulative count of Article Views (full-text article views including HTML views, PDF and ePub downloads, according to the available data) and Abstracts Views on Vision4Press platform.

Data correspond to usage on the plateform after 2015. The current usage metrics is available 48-96 hours after online publication and is updated daily on week days.

Initial download of the metrics may take a while.